Sejarah

 1 Komentar

SEJARAH TERBENTUKNYA KODIM 0606 / KOTA BOGOR

PENDAHULUAN

Di antara prasasti-prasasti yang ditemukan di Bogor tentang kerajaan-kerajaan yang silam, salah satu prasasti tahun 1533, menceritakan kekuasaan Raja Prabu Surawisesa dari Kerajaan Pajajaran, salah satu kerajaan yang paling berpengaruh di pulau Jawa. Prasasti ini dipercayai memiliki kekuatan gaib, keramat dan dilestarikan hingga sekarang.

Pakuan yang merupakan ibu kota pemerintahan Kerajaan Pajajaran diyakini terletak di Kota Bogor, dan menjadi pusat pemerintahan Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja Ratu Haji I Pakuan Pajajaran) yang dinobatkan pada 3 Juni 1482. Hari penobatannya ini diresmikan sebagai hari jadi Bogor pada tahun 1973 oleh DPRD Kabupaten dan Kota Bogor, dan diperingati setiap tahunnya hingga saat ini.

Zaman kolonial Belanda setelah penyerbuan tentara Banten, catatan mengenai Kota Pakuan hilang, dan baru ditemukan kembali oleh ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Scipio dan Riebeck pada tahun 1687. Mereka melakukan penelitian atas Prasasti Batutulis dan beberapa situs lainnya, dan menyimpulkan bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Pajajaran terletak di Kota Bogor.

Pada tahun 1745, Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff membangun Istana Bogor seiring dengan pembangunan Jalan Raya Daendels yang menghubungkan Batavia dengan Bogor. Bogor direncanakan sebagai sebagai daerah pertanian dan tempat peristirahatan bagi Gubernur Jenderal. Dengan pembangunan-pembangunan ini, wilayah Bogor pun mulai berkembang.

Setahun kemudian, van Imhoff menggabungkan sembilan distrik (Cisarua, Pondok Gede, Ciawi, Ciomas, Cijeruk, Sindang Barang, Balubur, Dramaga dan Kampung Baru) ke dalam satu pemerintahan yang disebut Regentschap Kampung Baru Buitenzorg. Di kawasan itu van Imhoff kemudian membangun sebuah Istana Gubernur Jenderal. Dalam perkembangan berikutnya, nama Buitenzorg dipakai untuk menunjuk wilayah Puncak, Telaga Warna, Megamendung, Ciliwung, Muara Cihideung, hingga puncak Gunung Salak, dan puncak Gunung Gede.

Ketika VOC bangkrut pada awal abad 19, wilayah nusantara dikuasai oleh Inggris di bawah kepemimpinan Gubernur Jendral Thomas Rafless yang merenovasi Istana Bogor dan membangun tanah di sekitarnya menjadi Kebun Raya (Botanical Garden). Di bawah Rafles, Bogor juga ditata menjadi tempat peristirahatan yang dikenal dengan nama Buitenzorg yang diambil dari nama salah satu spesies palem.

Kemudian setelah pemerintahan kembali kepada pemerintah Belanda pada tahun 1903, terbit Undang-Undang Desentralisasi yang menggantikan sistem pemerintahan tradisional dengan sistem administrasi pemerintahan modern, yang menghasilkan Gemeente Buitenzorg. Pada tahun 1925, dibentuk provinsi Jawa Barat (provincie West Java) yang terdiri dari 5 karesidenan, 18 kabupaten dan kotapraja (stadsgemeente). Buitenzorg menjadi salah satu stadsgemeente.

Selanjutnya zaman Jepang pada masa pendudukan Jepang pada tahun 1942, pemerintahan Kota Bogor menjadi lemah setelah pemerintahan dipusatkan pada tingkat karesidenan. Dan pada pasca kemerdekaan pada tahun 1950, Buitenzorg menjadi Kota Besar Bogor yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 16 tahun 1950. Pada tahun 1957, nama pemerintahan diubah menjadi Kota Praja Bogor, sesuai Undang-Undang nomor 1 tahun 1957. Kota Praja Bogor berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Bogor, dengan Undang-Undang nomor 18 tahun 1965 dan Undang-Undang nomor 5 tahun 1974.

Dahulu Markas Kodim awalnya adalah digunakan Kantin Batalyon 10 Tentara Belanda, dari jaman penjajahan kemudian setelah keadaan merdeka baru pada tahun 1950 diambil alih pemerintah Republik Indonesia dan digunakan sebagai Balai Prajurit sampai dengan tahun 1962, selanjutnya dipergunakan oleh Kodim 0621 dari tahun 1962 sampai dengan tahun 1981 kemudian adanya satu perubahan di Markas Distrik Militer tersebut yaitu Kodim 0621 Kabupaten Bogor pindah dan adapun Kodim Kota Bogor yang berdiri pada tahun 1962 dan saat itu yang meminpin pertama kali adalah Mayor Inf. Djamaludin Effendi yang berkedudukan di merdeka, kemudian pada tahun 1990, Kodim 0606 Pindah ke kantor Ex Kodim 0621 Kabupaten Bogor yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman No. 33 Kota Bogor, dan pejabat yang memangku adalah Letnan Kononel Inf Bambang Prasetyo dan tak lama adanya penggantian oleh Letnan Kononel Inf M Irsyad S. Markas Komando Distrik Militer atau disebut Kodim 0606 Kota Bogor yang beralamat Jalan Ir. H. Sudirman No. 33 Kelurahan Pabaton Kecamatan Bogor Tengah Kota Bogor sampai sekarang ini.

A. LATAR BELAKANG
Yang melatar belakangi pembentukan adanya Kodim 0606 yaitu pada tahun 1940 sampai dengan tahun 1942 bangunan Korem sekarang digunakan sebagai Sekolah Teknik, selanjutnya pada tahun 1942 sampai dengan tahun 1945 digunakan tempat Residen (Shecokang). Kemudian Indonesia merdeka selanjutnya bangunan tersebut dipakai pada tahun 1950 digunakan Kantor Kotamadya Bogor, kemudian melihat strategi yang cukup baik dari Walikota Bogor dengan alasan dekat dengan Istana Bogor akhirnya dilakukanlah ruslag dengan kantor Korem 06 yang berada di jalan Ir. H. Juanda pada tahun 1971, dan selanjutnya kantor Korem berpindah ke jalan Merdeka No 6 Kelurahan Ciwaringin Kecamatan Bogor Tengah Kota Bogor dengan letak Astronomi 1060 47″ 18″BT 060 35′ 14″LS.
Untuk penataan strategik militer yang baik maka dilakukan pemecahan Kodim 0606 pada tahun 1981 oleh Ajudan Jenderal Korem Surya Kencana selanjutnya dipecah menjadi 2 yaitu Markas Kodim 0606 Kota Bogor dan Kodim 0621 Kabupaten Bogor, dengan tujuan mempermudah koordinasi dengan instansi samping, mempermudah pemamtauan intelejen serta mempercepat pemamantauan atau monitoring apabila ada aksi intelejen dari dalam ataupun dari luar.
Paradigma penyelenggaraan Kodim 0606 didasarkan melalui pembaharuan mekanisme perencanaan pembangunan daerah dengan melibatkan semua unsur masyarakat dalam setiap tahapan pelaksanaannya, menciptakan situasi kondusif melalui terselenggaranya informasi politik sehat, mendorong berkembangnya masyarakat madani yang dilandasi nilai-nilai agama dan nilai-nilai budaya luhur daerah, meningkatkan pelayanan prima kepada masyarakat melalui kinerja aparat yang bersih dan terbuka.
Situasi keamanan di Kodim Kota Bogor aman dan terkendali, sehingga aktivitas pemerintahan dan masyarakat dapat berjalan dengan baik. Ancaman keamanan/terorisme dapat dikendalikan dengan bekerjasama dengan instansi terkait lainnya. Pelaksanaan kegiatan politik. Namun demikian aparat keamanan tetap melakukan kewaspadaan terhadap ancaman yang dapat menggangu situasi dan keamanan di Kota Bogor.

B. Pemerkasa
Permerkasa dari pembentukan Komando Distrik Militer adalah seorang Ajudan Jenderal Komando Resor Militer Surya Kencana selanjutnya pada tahun 1981 dijadikan Markas Kodim Distrik Militer 0606 Kota Bogor.

C. Kapan Dibentuk
Komando Distrik Militer 0606 Kota Bogor di bentuk Pada Tahun 1962 dan kedudukan kantor di Jalan Merdeka No 6 Kota Bogor.

D. Dimana
Komando Distrik Militer 0606 Kota Bogor awalnya berada di Jalan Merdeka No 6 dengan letak astronomi 1060 47″ 18″BT 060 35′ 14″LS, selanjutnya pada tahun 1990 Kodim 0606 pindah ke alamat di Jalan Ir. H. Sudirman No. 33 Kelurahan Pabaton, Kecamatan Bogor Tengah Kota Bogor, Propinsi Jawa Barat dengan letak astronomis 1060 47″ 48″BT 060 35′ 12″LS, yang dulunya adalah Kodim 0621 Kabupaten Bogor, yang dibatasi sebelah Utara museum PETA, sebelah Timur Jalan Sudirman, sebelah selatan Pertokoan dan Panti Asuhan Bina harapan, Sebelah Barat permukiman, dengan luas bangunan 108,18 M2 dengan luas tanah : 3.182,55 M2 dan status tanah kepemilikan TNI-Angkatan darat Kodim 0606 Bogor.

E. Keadaan Pada Saat Dibentuk
Adapun keadaan saat dibentuk Komando Distrik Militer 0606 Kota Bogor dipimpin pertama kali oleh seorang Letnan Kononel Infantri Djamaludin Effendi dan markas kodim saat itu berkedudukan di Jalan Merdeka No 6 Kota Bogor. situasi kondisi saat itu Kota Bogor belum begitu kondisif serta penduduk Kota Bogor yang relative masih sedikit serta maraknya pelaku kejahatan yang dilakukan oleh segerombolan orang-orang yang mengaku akan mendirikan negara islam di Indonesia, dan mereka apabila siang hari akan bersatu dengan masyarakat dan apabila malam hari akan menjadi gerombolan separatis yang selalu mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat, karena menghendaki kondisi yang tidak kondusif serta masyarakat yang resah sehingga kepercayaan masyarakat akan kurang baik kepada pemerintah, oleh karena perlu dibentuk Kodim
PERKEMBANGAN UNSUR PIMPINAN

1. Dandim yang pertama adalah Letkol Inf Djamaludin Efendi menjabat dari tahun (1962 sampai dengan tahun 1963)
2. Dandim yang ke dua adalah Letkol Inf Bahyah Sutman menjabat dari tahun (1963 sampai dengan tahun 1964)
3. Dandim yang ke tiga adalah Mayor Inf Supaat Karta Subrata menjabat dari tahun (1964 sampai dengan tahun 1965)
4. Dandim yang ke empat adalah Letkol Inf Endjo Martadisastra menjabat dari tahun (1965 sampai dengan tahun 1967)
5. Dandim yang ke lima adalah Letkol Inf A Suroto menjabat dari tahun (1967 sampai dengan tahun 1968)
6. Dandim yang keenam adalah Letkol Inf Hasan Efendi menjabat dari tahun (1968 sampai dengan tahun 1969)
7. Dandim yang ke tujuh adalah Letkol Inf Rasbu Zaenudin menjabat dari tahun (1969 sampai dengan tahun 1970)
8. Dandim yang ke delapan adalah Letkol Inf H Ayip Rugbi menjabat dari tahun (1970 sampai dengan tahun 1973)
9. Dandim yang ke sembilan adalah Letkol Inf Mamun Dipura Senjaya menjabat dari tahun (1973 sampai dengan tahun 1975)
10. Dandim yang ke sepuluh adalah Letkol Inf R Suhardjo menjabat dari tahun (1975 sampai dengan tahun 1976)
11. Dandim yang ke sebelas adalah Letkol Inf D Sunardi menjabat dari tahun (1976 sampai dengan tahun 1981)
12. Dandim yang ke dua belas adalah Letkol Inf Walyu Sugito menjabat dari tahun (1981 sampai dengan tahun 1983)
13. Dandim yang ke tiga belas adalah Letkol Inf R Moeryono menjabat dari tahun (1983 sampai dengan tahun 1987)
14. Dandim yang ke empat belas adalah Letkol Inf Upe Mustofa menjabat dari tahun (1987 sampai dengan tahun 1988).
15. Dandim yang ke lima belas adalah Letkol Inf Bambang Praysetyo menjabat dari tahun (1988 sampai dengan tahun 1990)
16. Dandim yang ke enam belas adalah Letkol Inf M Irsyad S menjabat dari tahun (1990 sampai dengan tahun 1992)
17. Dandim yang ke tujuh belas adalah Letkol Inf A Djoko Mulyono S menjabat dari tahun (1992 sampai dengan tahun 1995)
18. Dandim yang ke delapan belas adalah Letkol Inf Drs Sujanto menjabat dari tahun (1995 sampai dengan tahun 1997)
19. Dandim yang ke sembilan belas adalah Letkol Art Mustofa H. P menjabat dari tahun (1997 sampai dengan tahun 1998)
20. Dandim yang ke dua puluh adalah Letkol Czi Soratmo menjabat dari tahun (1998 sampai dengan tahun 2000)
21. Dandim yang ke dua puluh satu adalah Letkol Inf H Anwar H menjabat dari tahun (2000 sampai dengan tahun 2003)
22. Dandim yang ke dua puluh dua adalah Letkol inf. Oerif Sukoco
23. DANDIM KE 23, LETKOL INF. ARIEF RAHMAN.
24. DANDIM KE 24, LETKOL INF. AGUS MIRZA.
25. DANDIM KE 25, LETKOL KAV. SINYO, S.IP.

1 Komentar Untuk Sejarah

  • eddy supriadi Mengatakan:

    ..bukannya dulu KODIM 0606 di jl Kapt Muslihat..terus pindah ke Merdeka..sekarang di Eks Balai Prajurut / Kantin dan Saya pernah tinggal blk Kantin..Bp Saya yg bertanggung jawab atas Gedung tsb…dibawah pengawasan ADJREM…Bravo KODIM…

Tinggalkan Jawaban

*

Anda dapat menggunakan HTML tags dan atribut : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>